Kamis, 20 Januari 2011

Program Promosi Kesehatan

PROGRAM PROMOSI KESEHATAN

Promosi kesehatan merupakan upaya membantu masyarakat agar mampu melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk menolong diri sendiri, melaui pembelajaran dari, oleh dan bersama masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.

Promosi Kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai soasial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan --> perilaku dan lingkungan.


Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) adalah wahana pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat dengan bmbingan petugas puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya.


Pembinaan Dan Sehat:

1. Analisis Tingkat Perkembangan:
• Jumlah anggota
• Besarnya iuran
• Tingkat pelayanan kesehatan
• Berbadan hukum atau tidak
• Banyaknya tenaga pengelola purna waktu

2. Analisis Kasus:
• Kepesertaan
• Pendanaan
• Pemeliharaan kesehatan
• Organisasi

3. Pemantauan:
• Jumlah anggota
• Keteraturan masuknya iuran
• Kecenderungan pengeluaran dana
• Utilisasi pelayanan kesehatan.

Desa Siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri dalam rangka mewujudkan desa sehat.

Ciri-ciri pokok Desa Siaga:
1. Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar
2. Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat
3. Memiliki sistem pengamatan (surveilans) dan faktor-faktor resiko yang
berbasis masyarakat
4. Memiliki sistem kseiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan
bencana berbasis masyarakat
5. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat
6. Memliki lingkungan yang sehat
7. Masyarakatnya sadar gizi dan berperilaku PHBS.

Dengan telah adanya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM serta terlatihnya kader dan terbentuknya Forum Desa Siaga, maka desa yang bersangkutan telah dapat ditetapkan sebagai Desa Siaga Aktif.

Upaya pembinaan Poskesdes mencakup:
- Peningkatan pengetahuan petugas kesehatan , kader, maupun tenaga non
kesehatan
- Pembinaan administrasi, termasuk pengelolaan keuangan
- Advokasi kepada pejabat dan kelompok potensial/lintas sektor lainnya
- Sistem pencatatan dan pelaporan

Indikator keberhasilan Poskesdes:

I. Input
o Jumlah kader aktif
o Jumlah nakes yang tersedia
o Tersedianya arana (alat dan obat)
o Tersedianya tempat pelayanan
o Tersedianya dana operasional
o Tersedianya data/cacatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah kematian)

II. Output
o Cakupan K4
o Cakupan linakes
o Cakupan KN2
o Cakupan BBLR yang dirujuk
o Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik (T) yang ditangani
o Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat MP-ASI
o Cakupan imunisasi
o Cakupan pelayanan gadarvdan KLB dalam tempo < 24 jam o Cakupan keluarga yang punya jamban o Cakupan keluara yang dibina sadar gizi o Cakupan keluarga yang mengunakan garam beryodium o Tersedianya data sanitasi dasar kesehatan lingkungan o Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit menular tertentu yang menjadi masalah setempat o Peningkatan UKBM yang dibina
BATRA (Pengobatan Tradisional)

Adalah salah satu upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu perawatan mencakup cara obat dan pengobatannya.
Dalam pelaksanaannya mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan turun temurun baik yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku.

Pengelompokan Batra:
1. Pengobatan tradisional yang menggunakan ramuan obat: shinse, tabib, jamu gendong
2. Pengobatan tradisional yang menggunakan ketrampilan: akupunturis, batra
akupresor (tusuk jari), batra patah tulang, batra pijat/urut, batra pijat
refleksi, batra sunat, dukun bayi/beranak, tukang gigi/ahli gigi, batra
chiropractor.
3. Pengobatan tradisional berdasarkan/berkaitan dengan ajaran agama.
4. Pengobatan tradisional supranatural: paranormal, batra kebatinan, batra
tenaga dalam, batra gurah, batra qigong, batra reiki, batra prana, batra
susuk/jimat.

Dasar hukum:
1. Keputusan Meteri kesehatan No 107/Menkes/SK/VII/2003 tentang
Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional
2. Kepmenkes No. 1076/Menkes/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan
Tradisional.

Beberapa kewajiban pun perlu dipenuhi ketika melakukan praktek Battra, diantaranya kewajiban untuk memiliki STPT (Surat Tanda Pengobat Tradisional) dengan mendaftarkan diri ke Dinkes Kabupaten/Kota setempat, khusus untuk Akupuntur harus mengurus SIPT (Surat Izin Pengobat Tradisional) karena dalam hal ini usaha Akupuntur dapat dikatakan telah dapat dibuktikan keamanannya maka surat yang diurus pun memiliki satu tingkat lebih diatas pengobat tradisional lainnya.
Selain kepengurusan surat, pengobat tradisional juga wajib menyediakan ruang kerja minimal 2 x 2,5 m, ruang tunggu, papan nama maksimal 1 x 1,5 m dan harus dicantumkan STPT/SIPT, kamar kecil terpisah dari ruang pengobatan, penerangan yang baik sehingga dapat membedakan warna dengan jelas, sarana dan prasarana memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi, ramuan/obat tradisional yang memenuhi persyaratan, dan pencatatan sesuai kebutuhan.


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Indikator PHBS di tingkat rumah tangga yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang bayi dan balita
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah

PHBS di sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.


Syarat-syarat sekolah ber-PHBS yaitu :
• Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
• Jajan di kantin sekolah yang sehat
• Membuang sampah pada tempatnya
• Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah
• Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
• Tidak merokok di sekolah
• Memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin
• Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah

PHBS di tempat-tempat umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat-tempat umum yang ber-PHBS.
Melalui penerapan PHBS di tempat umum ini, diharapkan masyarakat yang berada di tempat-tempat umum akan terjaga kesehatannya dan tidak tertular atau menularkan penyakit.

Syarat tempat umum yang ber-PHBS yaitu :
- Menggunakan air bersih
- Menggunakan jamban
- Membuang sampah pada tempatnya
- Tidak merokok
- Tidak meludah sembarangan
- Memberantas jentik nyamuk
- Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih
- Menutup makanan dan minuman

PHBS di tempat kerja merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif. Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah, dan sehat.

Syarat tempat kerja yang sehat yaitu :
- Mengkonsumsi makanan bergizi
- Melakukan aktivitas fisik setiap hari
- Tidak merokok di tempat kerja
- Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
- Menggunakan air bersih
- Memberantas jentik di tempat kerja
- Menggunakan jamban
- Membuang sampah pada tempatnya

PHBS di institusi kesehatan merupakan upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung, dan petugas agar tahu, mampu, dan mampu mempraktikkan hidup perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan intitusi kesehatan ber-PHBS.

PHBS di Institusi Kesehatan sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit, infeksi nosokomial dan mewujudkan Institusi Kesehatan yang sehat.

Syarat institusi sehat yaitu :
- Menggunakan air bersih
- Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
- Menggunakan jamban
- Membuang sampah pada tempatnya
- Tidak merokok di Institusi Kesehatan
- Tidak meludah sembarangan
- Memberantas jentik nyamuk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.