Kamis, 20 Januari 2011

Pengobatan Rasional

Batasan/Pengertian
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO, 1987), penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria:
• sesuai indikasi penyakit
• tersedia setiap saat dengan harga terjangkau
• diberikan dengan dosis yang tepat
• cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat
• lama pemberian yang tepat
• obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin dan aman.

Dengan demikian penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
• ketepatan diagnosis
• ketepatan indikasi pemakaian obat
• Ketepatan pemilihan obat: kelas terapi, jenis obat, kemanfaatan, keamanan, resiko SE, harga dan mutu.
Istilah rasional dalam pengobatan adalah jika pengobatan dilakukan secara tepat, yaitu tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat jenis obat, tepat dosis, cara dan lama pemberian, tepat penilaian terhadap kondisi pasien, tepat informasi dan tepat tindak lanjutnya.
.
Gejala Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
• Peresepan berlebih (over prescribing)
- Batuk pilek biasa diberi antibiotik
- Pemberian vitamin pada anak dengan berat ideal
• Peresepan kurang (under prescribing)
- Pemberian antibiotik selama 3 hari
- Penderita diare tidak diberi oralit
• Peresepan majemuk (muliple prescribing)
- Anak demam batuk pilek diberi CTM, Efedrin, GG, sedatif
• Peresepan salah (incorrect prescribing)
- Anak 4 tahun dengan kolera diberi Tetrasiklin
- Injeksi vit.B12 untuk penderita pegal linu

Dampak Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
Mutu pengobatan dan pelayanan
Biaya pelayanan pengobatan
Kemungkinan efek samping dan efek lain yang tidak diharapkan (resistensi, resiko penularan penyakit penggunakaan jarum suntik yang tidak lege artis, dan bahaya alergi/syok anafilaktik)
Kondisi psikososial.
Faktor Yang mempengaruhi Terjadinya Pemakaian Obat Yang Tidak Rasional
Pembuat resep
 Tidak adanya protap
 Pengalaman praktek sehari-hari
 Informasi dari perusahaan farmasi
 Tekanan dari pasien dal;am bentuk permintaan untuk meresepkan obat-obat tertentu berdasarkan pilihan pasien sendiri
 Kekurangyakinanan pada diri pembuat resep terhadap diagnosis yang ditegakkan.
 Terbatasnya waktu bagi dokter/perawat/bidan untuk melakukan pemeriksaan seksama karena banyaknya pasien yang menunggu giliran diperiksa.
Pasien/masyarakat
• Sebagian pasien belim merasa sembuh dari sakitnya bila tidak disuntik
• Sebagian orang tua pasien minta anaknya yang diare disuntik, atau diberi antibiotika ataupun antidiare.
Sistem perencanaan dan pengelolaan obat
• Keterbatasan dana  terbatasnya jumlah obat yang tersedia
• Perencanaan dan pengadaan obat tidak sesuai kebutuhan obat di Puskesmas
Kebijaksanaan obat dan pelayanan kesehatan
• Pendelegasian wewenang untuk melakukan praktek pengobatan yang tidak didasari pengetahuan tentang obat.
• Petugas Pustu memberikan obat ke pasien tanpa resep

Lain-lain
• Gencarnya informasi obat dalam bentuk iklan
• Persaingan praktek

Intervensi Dengan Obat (Farmakoterapi)
4. Pemakaian obat oral ataupun obat yang digunakan sendiri oleh pasien (misalnya salep kulit)
- Peresepan  proses keputusan pengobatan oleh PPK terhadap pasien berdasarkan hasil temuan selama pemeriksaan: pemilihan jenis obat (dosis, cara dan lama pemberian), informasi/edukasi, penulisan resep.
- Penyerahan obat ke pasien (dispensing), memasukkan obat dalam kemasan yang sesuai (packaging), pencatuman label dan petunjuk untuk pasien pada kemasan yang dibuat labelling) dan penyerahan obat ke pasien disertai dengan informasi yang berkaitan dengan obat yang diberikan.
- Pemakaian obat oleh pasien (drug use): kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan untuk menghindarkan resiko SE, resistensi kuman sampai kegagalan pengobatan.

2. Pemakaian obat suntik
 Kemungkinan resiko efek samping pemakaian obat suntik relatif lebih besar dibanding cara pemberian oral.
 Indikasi pemberian obat suntik:
 Jika diperlukan efek pengobatan yang cepat, misanya untuk penanganan syok anafilaksis
 Jika karena kondisi pasien, pemberian peroral sangat tidak mungkin: post-operasi (sebelm peristaltik usus berfungsi baik), penderita yang mengalami trakeostomi, penderita hiperemesis.
 Pada kondisi gawat darurat, misalnya serangan asma akut dengan pemberian aminofilin intravena.
 Obat tidak diabsorpsi pada pemberian peroral: injeksi PP untuk pengobatan/profilaksis demam rematik.
Pertimbangan lain:
 Penyuntikan harus dilakukan secara benar oleh orang yang benar-benar mampu dan berhak melakukannya (dokter).
 Terjamin mutu penggunaan (dosis) dan mutu penyiapan alat suntik.
 Terjamin mutu obat suntiknya: belum kadaluarsa, penyimpanan baik.
 Terjamin ketersediaan alat suntik dan bahan lainnya untuk injeksi (kapas alkohol).

Pemilihan Obat
Efek terapi apa yang diperlukan? Diare akut nonspesifik  oralit.
Kelas terapi apa yang sebaiknya diberikan? Anak dengan pnemonia 
Kotrimoksazol, bukan Tetrasiklin

Hasil Pemantauan dapat dimanfaatkan unuk tindakan koreksi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Hasil penilaian dapat dimanfaatkan untuk menyusun perencanaan kegiatan tahun berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.