Kamis, 28 Januari 2010

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Tujuan dari Pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Dengan demikian setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara, dan setiap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga berarti investasi bagi pembangunan Negara.

Pusat Kesehatan Masyarakat yang lebih dikenal dengan sebutan Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas, yakni unit organisasi di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang melaksanakan tugas teknis operasional dan bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan.

Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan oleh Puskesmas dan jaringannya, yang meliputi Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas Keliling, dan Bidan di Desa merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional;

Selain itu Puskesmas dan jaringannya secara langsung juga bertanggungjawab dalam meningkatkan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat dalam lingkungan yang sehat melalui pendekatan azas pertanggungjawaban wilayah, azas peran serta masyarakat, azas keterpaduan lintas program dan lintas sektor serta azas rujukan
Perubahan dan pembaharuan menuntut adanya transparansi, akuntabilitas, good governance, responsif dan partisipatif dalam segala bidang termasuk kesehatan. Untuk itu perlu adanya Reformasi di Bidang Kesehatan dalam proses penataan sistem berupa revitalisasi, pengembangan program dan inovasi untuk mencapai efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas dalam konteks penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Terdapat Lima issu pokok program Departemen Kesehatan Republik Indonesia, berkaitan dengan program 100 hari Menteri Kesehatan yang perlu ditindaklanjuti di daerah, termasuk di Kabupaten Kampar, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Peningkatan pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan kesehatan masyarakat;
2. Peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencaaian target Millenium Development Goal's;
3. Pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana.
4. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan kualitas tenaga kesehatan terutama di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan secara berkesinambungan;
5. Dukungan manajemen dalam peningkatan pelayanan kesehatan.

Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 (Tambahan Lembaran Negara Republik Indnesia Nomor 5063) pada tanggal 13 Oktober 2009 oleh Presiden Repulik Indonesia, memberikan kontribusi penting bagi peningkatan pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih bermutu dan terjangkau.

Pasal 171 Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 mengamanatkan bahwa Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji. Sedangkan Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji. Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik (terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar) berupa pelayanan preventif, pelayanan promotif, pelayanan kuratif, dan pelayanan rehabilitatif yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Biaya tersebut dilakukan secara efisien dan efektif dengan mengutamakan pelayanan preventif dan pelayanan promotif dan besarnya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Adanya pergeseran paradigma di bidang kesehatan yang saat ini menganut paradigma sehat, Puskesmas dituntut untuk melaksanakan upaya preventif promotif (peningkatan kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), tanpa mengabaikan upaya kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan). Hal ini sesuai dengan semboyan lebih baik mencegah penyakit dari pada mengobati penyakit.

Berdasarkan proporsinya terhadap keseluruhan pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Puskesmas menyumbang peran yang paling besar yaitu sebanyak 88,31% dibandingkan dengan Rumah Sakit (11,69%). Namun sayangnya banyak masih banyak masyarakat yang memanfaatkan Puskesmas hanya sebagai sarana pengobatan. Seharusnya Puskesmas lebih mengutamakan upaya preventif-promotif, bagaimana menjadikan penduduk tetap sehat, berbeda dengan rumah sakit yang lebih mengutamakan upaya kuratif-rehabilitatif. Idealnya diharapkan yang datang ke Puskesmas itu adalah kunjungan masyarakat sehat lebih banyak dari pada orang sakit yang ingin berobat. Dengan demikian biaya pengobatan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga bisa diperoleh cost-effective.

Untuk itu petugas kesehatan Puskesmas diharapkan mampu melakukan deteksi penyakit secara dini untuk mencegah banyaknya kasus rujukan ke rumah sakit, melalui kegiatan kampanye hidup bersih dan sehat, penyuluhan kesehatan, imunisasi serta pemberian pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan medik dasar.

Dengan pertimbangan meningkanya pembiayaan kesehatan di tahun mendatang dalam menghadapi berbagai tantangan yang terkait dengan era globalisasi dan selaras dengan penerapan desentralisasi serta tuntutan masyarakat tentang transparansi dan akuntabilitas, maka perlu dilakukan upaya Revitalisasi Puskesmas berupa penguatan sumber daya, peningkatan sistem pelayanan dan manajemen Puskesmas sesuai dengan peran dan fungsinya menuju pelayanan Puskesmas yang akuntabel, aman, bermutu, mampu memberdayakan masyarakat dan mempunyai jejaring yang kuat sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Semangat Revitalisasi Puskesmas ini, yang mencakup revitalisasi fisik, program dan manajemen Puskesmas tentunya selaras dengan program pemerintah daerah dalam mewujudkan satu bentuk pelayanan prima kepada masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan pembangunan di masa mendatang.

Bila kita cermati dari penyakit-penyakit yang ada pada masyarakat, sebagian besar masih didominasi oleh penyakit infeksi, seperti penyakit diare, malaria, demam berdarah, demam Chikungunya, dan lainnya. Masalah kesehatan lain seperti penyakit-penyakit tidak menular seperti Kencing Manis, Darah Tinggi, Stroke akibat gaya hidup yang tidak seimbang juga menjadi ancaman yang serius masa mendatang.

Menurut informasi WHO pada tahun 1999 kasus penyakit tidak menular hampir 60% menyebabkan kematian dan 43% dari seluruh beban penyakit di dunia (Global Disease Burden) dan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 73% sebagai penyebab kematian dan 60% dari seluruh beban penyakit. Penyakit tidak menular sangat erat kaitannya dengan gaya hidup (life style) seperti pola makan tidak seimbang, tidak melakukan aktifitas fisik, merokok dan mengkonsumsi narkoba.

Untuk itu saya menghimbau dan mengajak Saudara-Saudari sekalian untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut di atas dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku hidup bersih dan sehat dinyatakan sebagai sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri atau keluarga di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di tingkat Rumah Tangga memiliki indikator-indikator antara lain: persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI ekslusif, menimbang bayi dan balita, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam rumah. Apabila sebagian besar Rumah Tangga di satu desa menerapkan PHBS maka desa tersebut bisa dikatakan sebagai Desa Sehat.

Masyarakat, swasta dan dunia usaha juga dilibatkan sebagai mitra kerja dalam mengenali masalah yang ada di daerahnya untuk mengembangkan kegiatan secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan potensi setempat (local need) yang tertuang dalam bentuk kegiatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), seperti Desa Siaga dengan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), Posyandu, Posyandu Usila, Dana Sehat, Ambulance Desa, dan lain sebagainya.

Adanya kebijakan pengembangan Desa Siaga merupakan strategi memiliki daya ungkit yang besar dalam mewujudkan masyarakat sehat dan Desa Sehat.
Desa Siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah/ancaman kesehatan (termasuk bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri dalam rangka mewujudkan Desa Sehat. Bentuk kegiatan dalam Desa Siaga mencakup masyarakat siaga dan pelayanan kesehatan siaga. Lingkup kegiatan masyarakat siaga meliputi konsep pembiayaan berbasis masyarakat, penyediaan sarana transportasi bagi kasus gawat darurat (ambulance desa), ketersediaan daerah, pemetaaan status kesehatan (penyakit menular dan gizi masyarakat). Untuk itu kepada seluruh Puskesmas di Kabupaten Kampar, saya minta untuk memfasilitasi perwujudan Desa Siaga dimaksud melalui kerja sama dengan Camat, pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat untuk mempromosikan kepentingan Desa Siaga yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan dari masyarakat desa di wilayah kerjanya.

Dengan adanya kepedulian masyarakat untuk hidup sehat dan kemampuan berperan aktif untuk dapat memecahkan permasalahan kesehatannya secara mandiri akan memperlancar penyelenggaraan pembangunan kesehatan di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.