Jumat, 24 Juni 2011

LANGKAH--LANGKAH STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL

Keseluruhan 58 standar dan langkah asuhan persalinan normal yang mempunyai arti, maksud dan tujuan, dan harus dikuasai seorang bidan tersebut adalah
1. Mendengar dan Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas : Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan? Dan Apakah bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

Asuhan Persalinan Normal (APN)

Tujuan asuhan persalinan normal adalah tercapainya kelangsungan hidup dan kesehatan yang tinggi bagi ibu serta bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap namun menggunakan intervensi seminimal mungkin sehingga prinsip keamanan dan kualitas layanan dapat terjaga pada tingkat yang seoptimal mungkin. pendekatan seperti ini berarti bahwa: dalam asuhan persalinan normal harus ada alasan yang kuat dan bukti manfaat apabila akan melakukan intervensi terhadap jalannya proses persalinan yang fisiologis/alamiah.

TUJUAN PELATIHAN:
Mampu melaksanakan Asuhan Persalinan normal yaitu persalinan yang sesuai dengan Pilar Safemotherhood yaitu Persalinan Bersih Aman, Sayang Ibu dan Berorientasi Keselamatan. Dengan APN kita dapat mencegah kematian yang disebabkan Perdarahan, Eklamsia, Sepsis.
Pencegahan dilakukan dengan:
- Menghindari Tindakan yang Tak Perlu
- Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III
- Pemantauan Kontraksi & Masase Uterus
- Penatalaksanaan Atonia Uteri
- Perangsangan Taktil, Pengeringan & Penghangatan Bayi Baru Lahir
Pada akhir praktek pelatihan APN peserta akan dapat :
• Memberikan pelayanan yang ramah, aman dan penuh kekeluargaan yang meliputi aspek-aspek 5 benang merah.
• Melakukan penatalaksanaan persalinan fisiologis kala I, menggunakan partograf, mengidentifikasi dan memberikan penanganan awal penyulit, serta persiapan rujukan
• Melakukan penatalaksanaan persalinan fisiologis kala II, mengidentifikasi dan memberikan penanganan awal penyulit serta persiapan rujukan
• Melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, mengidentifikasi dan memberikan penanganan awal penyulit, serta persiapan rujukan
• Melakukan penatalaksanaan manajemen aktif kala III dan pelayanan kala IV serta mengidentifikasi penyulit, penanganan awal dan persiapan rujukan.

FOKUS PELATIHAN
Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegahan komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.

Mencegah :
• Perdarahan post partum
• Asfiksi bayi baru lahir/hipotermi
• Infeksi
• Partus lama

Dalam asuhan persalinan normal harus ada ALASAN yang kuat dan TERBUKTI BERMANFAAT bila akan melakukan intervensi terhadap proses persalinan yang fisiologis / alamiah.



Tujuan Umum Pelatihan

• Meningkatkan sikap positif terhadap keramahan & keamanan dlm memberikan pelayanan persalinan normal & penanganan awal penyulit beserta rujukannya
• Memberikan pengetahuan & ketrampilan pelayanan persalinan normal & penanganan awal penyulit beserta rujukan yang berkualitas & sesuai dengan prosedur standar

Tujuan Pelatihan:

• Mengidentifikasi praktek-praktek terbaik bagi penatalaksanaan persalinan dan kelahiran:
- Penolong yang terampil
- Kesiapan menghadapi persalinan dan kelahiran serta kemungkinan komplikasinya
- Partograf
- Episiotomi terbatas hanya atas indikasi
• Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merugikan dengan maksud menghilangkan tindakan tersebut.

Beberapa contoh dibawah ini, menunjukkan adanya pergeseran paradigma tersebut diatas:
• Mencegah Perdarahan Pascapersalinan yang disebabkan oleh Atonia Uteri
Upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan dimulai pada tahap yang paling dini. Setiap pertolongan persalinan harus menerapkan upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan, diantaranya manipulasi minimal proses persalinan, penatalaksanaan aktif kala III, pengamatan melekat kontraksi uterus pascapersalinan. Upaya rujukan obstetrik dimulai dari pengenalan dini terhadap persalinan patologis dan dilakukan saat ibu masih dalam kondisi yang optimal.
• Laserasi/episiotomi
Dengan paradigma pencegahan, episiotomi tidak lagi dilakukan secara rutin karena dengan perasat khusus, penolong persalinan akan mengatur ekspulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau hanya terjadi robekan minimal pada perineum.
• Retensio plasenta
Penatalaksanaan aktif kala tiga dilakukan untuk mencegah perdarahan, mempercepat proses separasi dan melahirkan plasenta dengan pemberian uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan penegangan tali pusat terkendali.
• Partus Lama
Untuk mencegah partus lama, asuhan persalinan normal mengandalkan penggunaan partograf untuk memantau kondisi ibu dan janin serta kemajuan proses persalinan. Dukungan suami atau kerabat, diharapkan dapat memberikan rasa tenang dan aman selama proses persalinan berlangsung. Pendampingan ini diharapkan dapat mendukung kelancaran proses persalinan, menjalin kebersamaan, berbagi tanggung jawab diantara penolong dan keluarga klien.
• Asfiksia Bayi Baru Lahir
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara baik dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi tubuh untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi utero-plasenter terhadap bayi, teknik meneran dan bernapas yang menguntungkan bagi ibu dan bayi. Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap hangat, menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara benar, memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan (bila perlu). Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia, memberikan pertolongan secara tepat dan adekuat bila terjadi asfiksia dan mencegah hipotermia.
Paradigma baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya, terbukti dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang sering terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dimana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas maka paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat diterapkan pada tingkat tersebut. Jika semua penolong persalinan dilatih agar kompeten untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal maka semua upaya tersebut dapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.

Ada beberapa catatan penulis dan dikombinasi dengan catatan-catatan lainnya dalam penanganan persalinan dan bayi baru lahir yang tentunya perlu diketahui oleh mereka yang bekerja diunit-unit pelayanan kesehatan, bidan-bidan desa, bidan puskesmas dan di klinik-klinik persalinan yaitu
1. 58 langkah standar dalam memberikan Asuhan Persalinan Normal yang sebelumnya terdiri dari 60 langkah sekarang menjadi 59 Langkah, tambahannya adalah langkah pemeriksaan kesehatan lengkap Bayi Baru Lahir (BBL). Hal ini dilakukan karena banyak bayi yang baru dilahirkan, tampa disadari oleh sang penolong persalinan (tenaga kesehatan=bidan) telah mengalami kelainan, dan celakanya yang mengetahui terlebih dahulu adalah ibu dan atau keluarga sang bayi.
2. Langkah yang penting juga adalah Langkah dimana ketika bayi baru saja dilahir, tidak langsung dipotong tali pusatnya, tetapi diletakan diatas perut ibu, kemudian diberikan suntikan oksiitosin, sebelumnya langkah ini (masih dalam standar langkah 60), dipotong tali pusat kemudian kemudian diberikan suntikan oksitosin. Perubahan ini karena dengan pemberian suntikan terlebih dahulu, maka aliran darah melalui plasenta masih sempat terjadi yaitu seitar 35 cc permenit, jadi jika standarnya ketika bayi lahir, kemudian diletakan diatas perut ibu lalu disuntikan oksitosin berkisar 2-3 menit artinya sekitar 100 cc darah masih sempat diperoleh sang bayi dan sebagai awal penyesuaian diri dengan lingkungan diluar rahim ibunya.
3. Langkah lainnya terlepas dari standar langkah APN adalah yaitu langkah 43 ketika bayi dibiarkan tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. Dan kemudian masuk pada langkah selanjutnya. 1 jam bayi bersama ibunya adalah kesempatan yang diberikan oleh bidan untuk melakuan Inisiani dini bayi. Sang bayi akan merangkak mencari payudarah (the Breast Crawl). Ini berdasarkan penelitian Bayi pada usia beberapa menit dapat merangkak kearah payudara dan menyusu sendiri (“the Breast Crawl” ) (Marshall Klaus: Mother and Infant : Early Emotional Ties Ped 1998, UNICEF India: BREAST CRAWL Initiation of breastfeeding by breast crawl. UNICEF India 2007). Penelitian lainnya Kemampuan kulit ibu menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi (thermoregulator thermal synchron). ( Fransson A Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed 90 : 2005,; Niels Bergman: Kangoroo Care 2005 , Bergstorm et al Acta Paediatr 2007). Inisiasi dini ini adalah langkah awal untuk Pemberian ASI Esklusif 6 bulan. Barang siapa yang tidak mendukung akan dikenahkan sangsi sebagai mana terdapat dalam UU kesehatan nomor 36 tahun 2009 pasal 200 yaitu “Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”
4. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah masalah pendarahan, masalah ini penting karena presentase penyebab utama kematian ibu adalah pendarahan, Masalah pendarahan ini karena pada saat melahirkan ketika terjadi pendarahan maka jumlah darah yang keluar adalah 350-500 cc permenitnya artinya jika jumlah darah normal sekitar 5 liter maka dalam jangka waktu sekitar 10-15 menit saja sang ibu akan kehilangan darah, dan inilah yang menyebabkan kematian.
5. Dan terakhir yang penulis catat selama pelatihan APN semua langkah adalah penting, setiap langkah yang dibuat oleh para ahli mempunyai arti, maksud dan tujuan, apa yang terjadi pada setiap langkah selalu didahului oleh tanda-tanda, bidan yang melakukan persalinan harus dengan tenang, dan jangan tergesa-gesa, hanya bisa dilakukan bila setiap langkah difahami dengan benar.

Penolong Yang Terampil

Seorang pemberi asuhan yang profesional
• Memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk:
- Menatalaksana persalinan, kelahiran dan masa nifas
- Dapat mengenali komplikasi-komplikasi
- Mendiagnosis, menatalaksana atau merujuk ibu atau bayi ke tingkat asuhan yang lebih tinggi jika terjadi komplikasi yang memerlukan intervensi di luar kompetensi pemberi asuhan
• Dapat melakukan semua intervensi dasar kebidanan

Kesiapan Menghadapi Persalinan dan Kesiapan Menghadapi Komplikasi Bagi Pemberi Asuhan

• Mendiagnosis dan menatalaksana masalah dan komplikasi dengan sesuai dan tepat waktu
• Mengatur rujukan ke tingkat yang lebih tinggi bila diperlukan
• Memberikan konseling yang berpusat pada ibu tentang kesiapan menghadapi persalinan dan kelahiran serta kesiapan menghadapi komplikasinya
• Mendidik masyarakat mengenai kesiapan menghadapi persalinan dan kelahiran serta kesiapan menghadapi komplikasinya

Kesiapan Menghadapi Komplikasi Bagi Pemberi Asuhan
• Mengenali dan merespon tanda-tanda bahaya
• Menyusun rencana serta menentukan siapa yang berwenang untuk nengambil keputusan di saat keadaan darurat
• Membuat rencana untuk segera dapat mengakses dana (tabungan atau dana masyarakat)
• Mengidentifikasi dan merencanakan upaya yang harus dilakukan untuk mendapatkan darah atau donor darah dengan segera bila diperlukan.


3 CIRI UTAMA PENDEKATAN PELATIHAN KLINIK
• Berdasarkan Kompetensi
• Konsep Mastery Learning
• Teknik Pelatihan Humanistik

BUKU ACUAN : PELATIHAN

PELAYANAN DASAR PERSALINAN

• BAB I : Lima Benang Merah dalam Pendekatan Pelayanan
• BAB II : Persalinan Kala I
• BAB III : Persalinan Kala II
• BAB IV : Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir
• BAB V : Persalinan Kala III & IV







BAB I : LIMA BENANG MERAH

* Metode Pemecahan Masalah
* Sayang Ibu
* Pencegahan Infeksi
* Dokumentasi
* Pedoman Rujukan Medik Puskesmas

Persalinan Bersih

• Sebanyak 14.9% dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh infeksi
• Kematian ini dapat dicegah dengan melakukan praktek-praktek pencegahan infeksi

Praktek-Praktek Pencegahan Infeksi

• Gunakan bahan/alat sekali pakai, sekali saja dan lakukan dekontaminasi yang sesuai terhadap bahan/alat yang dapat digunakan kembali yang digunakan selama persalinan dan kelahiran
• Gunakan sarung tangan pada saat melakukan pemeriksaan dalam, selama menolong melahirkan bayi dan ketika menangani plasenta
• Gunakan pelindung diri (sepatu, celemek, kaca mata)
• Cuci tangan
• Membersihkan perineum ibu dengan sabun dan air dan jagalah selalu kebersihannya
• Pastikan bahwa permukaan tempat bayi dilahirkan dalam keadaan bersih
• Peralatan, kasa dan tali untuk memotong tali pusat telah di DTT

BAB 2 : PERSALINAN KALA I

Tujuan Umum :
 Proses persalinan fisiologis
 Partograf
 Rujukan kelainan proses persalinan
 Masalah medis yg bisa terjadi (PE, APB, KPP) serta penatalaksanaannya


Persalinan Kala I

Praktek yang dianjurkan

• Partograf
• Ibu makan dan minum
• Melakukan aktifitas
• Posisi
• Mengosongkan kandung kemih

Partograf dan Kriteria Untuk Persalinan Aktif

• Tulis mengenai informasi identitas pasien
• Catat denyut jantung janin, warna cairan ketuban, ada tidaknya kompresi kepala, pola kontraksi, pengobatan yang diberikan
• Tandai pembukaan serviks
• Garis waspada dimulai pada 4 cm dari sini, pembukaan diharapkan bisa melaju 1 cm/jam
• Garis tindakan: Jika pasien tidak mengalami kemajuan seperti di atas, maka diperlukan tindakan

Persalinan Kala I

Praktek yang dihindari

• Klisma rutin
• Katerisasi rutin
• Cukur rambut kemaluan
• Pimpin meneran sebelum pembukaan lengkap

BAB 3 : Persalinan Kala II
Tujuan Umum :
• Mampu melakukan penatalaksanaan Persalinan Kala I
• Mengenal Penyulit
• Melakukan rujukan

Kala II yang dianjurkan :

• Menjelaskan kemajuan/prosedur/tindakan
• Mengijinkan makan minum
• Kehadiran keluarga - dukungan emosi
• Mengosongkan kandung kemih
• Posisi meneran
• Saat meneran
• “Non direct pushing”
• Kontrol pengeluaran kepala
• “Hand manuver”
• Penanganan BBL : usap mulut hidung, keringkan-rangsangan ringan, bungkus bayi-kepala juga

Persalinan Kala Tiga

• Penatalaksanaan aktif kala 3 bagi semua ibu melahirkan:
o Pemberian Oksitosin
o Penegangan tali pusat terkendali
o Masase uterus segera setelah plasenta dilahirkan agar uterus tetap berkontraksi
• Pemeriksaan rutin plasenta dan selaput ketubannya
o 22% kematian ibu disebabkan oleh retensio plasenta
• Pemeriksaan rutin pada vagina dan perineum untuk mengetahui adanya laserasi dan luka

Persalinan Kala Tiga

• Penatalaksanaan aktif kala 3 bagi semua ibu melahirkan:
o Pemberian Oksitosin
o Penegangan tali pusat terkendali
o Masase uterus segera setelah plasenta dilahirkan agar uterus tetap berkontraksi
• Pemeriksaan rutin plasenta dan selaput ketubannya
o 22% kematian ibu disebabkan oleh retensio plasenta
• Pemeriksaan rutin pada vagina dan perineum untuk mengetahui adanya laserasi dan luka
Praktek-Praktek Terbaik Persalinan

• Gunakan metode non-invasif, non-farmakologis untuk mengurangi rasa sakit selama persalinan (masase, teknik relaksasi, dsb):
 Sedikit penggunaan analgesia
 Lebih sedikit jumlah tindakan operasi Lebih sedikit jumlah bayi dengan skor apgar < 7 pada 5 menit pertama.  Lebih sedikit terjadinya depresi pasca persalinan selama 6 minggu  Menganjurkan ibu untuk cukup minum sepanjang proses persalinan dan kelahiran bayi • Gunakan metode non-invasif, non-farmakologis untuk mengurangi rasa sakit selama persalinan (masase, teknik relaksasi, dsb):  Sedikit penggunaan analgesia  Lebih sedikit jumlah tindakan operasi Lebih sedikit jumlah bayi dengan skor apgar < 7 pada 5 menit pertama.  Lebih sedikit terjadinya depresi pasca persalinan selama 6 minggu  Menganjurkan ibu untuk cukup minum sepanjang proses persalinan dan kelahiran bayi Praktek-Praktek Terbaik: Masa Nifas  Pemantauan ketat dan pengamatan terus menerus selama 6 jam pertama masa nifas  Parameter:  Tekanan darah, nadi, perdarahan pervaginam, kontraksi uterus Waktu:  Setiap 15 menit selama 2 jam pertama  Setiap 30 menit selama 1 jam berikutnya  Setiap jam selama 3 jam terakhir Posisi Dalam Persalinan Dan Kelahiran • Memberikan ibu kebebasan untuk menentukan posisi dan gerakan yang diinginkan selama persalinan dan kelahiran • Menganjurkan posisi apapun kecuali terlentang, seperti: - Berbaring miring - Berjongkok - Merangkak - Semi-duduk - Duduk • Penggunaan posisi tegak atau lateral dibandingkan dengan posisi telentang atau litotomi dihubungkan dengan: o Persalinan kala dua yang lebih singkat o Lebih sedikitnya persalinan yang harus ditolong o Lebih sedikitnya episiotomi o Lebih sedikitnya laporan nyeri yang parah o Lebih sedikitnya pola denyut jantung bayi abnormal o Lebih banyaknya robekan pada perineum o Kehilangan darah > 500 mL

Kebiasaan Rutin Yang Membahayakan

• Penggunaan enema: tidak nyaman, dapat merusak usus besar, tidak merubah lamanya persalinan, terjadinya infeksi pada bayi baru lahir atau infeksi luka pada masa perinatal
• Pencukuran rambut pubis: membuat tidak nyaman dengan tumbuhnya kembali rambut, tidak mengurangi infeksi, dapat meningkatkan penularan HIV dan hepatitis
• Pembersihan uterus setelah persalinan: dapat menyebabkan infeksi, trauma mekanik atau syok
• Eksplorasi manual pada uterus setelah persalinan






Praktek-Praktek Yang Membahayakan

• Pemeriksaan:
o Pemeriksaan rektum: angka kejadiannya sama dengan infeksi puerperium, tidak nyaman bagi wanita/ibu
o Penggunaan rutin sinar-X untuk pengukuran pelvis: meningkatkan kejadian leukemia pada anak
• Posisi:
o Penggunaan posisi telentang rutin selama persalinan
o Penggunaan posisi litotomi rutin dengan atau tanpa pijakan/penahan


Intervensi Yang Membahayakan

• Pemberian oksitosin kapanpun sebelum persalinan dengan cara apapun efeknya tidak dapat dikontrol
• Upaya meneran yang terus menerus selama persalinan kala dua
• Pemijatan dan peregangan perineum selama persalinan kala dua (tidak ada bukti)
• Mendorong fundus selama persalinan

Praktek-Praktek Yang Tidak Benar

 Pembatasan makanan dan minuman selama persalinan
 Pemberian cairan infus intravena secara rutin pada persalinan
 Pemeriksaan vagina yang berulangkali , khususnya apabila dilakukan oleh lebih dari satu penolong
 Memindahkan ibu yang akan bersalin secara rutin ke tempat lain pada saat permulaan kala dua
 Menganjurkan ibu untuk meneran ketika ditegakkan diagnosis pembukaan lengkap atau pembukaan sudah hampir lengkap padahal ibu belum merasa ingin meneran
 Kepatuhan yang kaku terhadap lamanya persalinan kala dua yang telah ditentukan (misalnya, 1 jam) padahal kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik dan terdapat kemajuan dalam persalinan
 Penggunaan episiotomi secara bebas atau rutin
 Penggunaan amniotomi secara bebas atau rutin
Praktek-Praktek Yang Digunakan Untuk Indikasi Klinis Yang Spesifik

 Kateterisasi kandung kemih
 Persalinan dengan tindakan
 Pemberian oksitosin
 Pengendalian rasa sakit dengan menggunakan obat-obat sistemik
 Pengendalian rasa nyeri dengan analgesi epidural
 Memonitor janin terus menerus secara elektronik


Persalinan dan Kelahiran Normal:

 Adanya tenaga terampil
 Penggunaan partograf
 Menggunakan kriteria spesifik untuk mendiagnosis persalinan aktif
 Membatasi penggunaan intervensi-intervensi yang tidak perlu
 Menggunakan penatalaksanaan aktif pada persalinan kala 3
 Mendukung posisi yang menjadi pilihan ibu selama persalinan dan kelahiran bayi
 Memberikan dukungan emosional dan fisik secara terus menerus pada ibu selama persalinan

Kamis, 20 Januari 2011

Penyelenggaraan Puskesmas Perkotaan

Kecenderungan masalah kesehatan di perkotaan akibat:
- Urbanisasi  Munculnya pemukiman kumuh
- Semakin meningkatnya pencemaran
- Perbahan gaya hidup akibat globalisasi
- Meningkatnya dampak negatif pada anak dan remaja
- Sarana yankes perorangan meningkat
- Semakin meningkatnya tuntutan berbagai jenis pelayanan.
Pengertian Perkotaan = Penduduk > 5.000 km2, < 25% RT Pertanian, > 8 fasilitas publik
Analisa Situasi:
- Perkotaan memiliki sarana yankes yang lebih memadai
- Masalah kesehatan yang ada lebih kompleks
- Beberapa penyakit cenderung lebih banyak di Perkotaan (penyakit sistem sirkulasi, kecelakaan, kanker)
- Masalah kesehata perkotaan (beban ganda):
• Penyakit infeksi/menular, gizi buruk, sanitasi buruk
• Penyakit degeneratif, gizi lebih, IMS, BD, kumuh perkotaan
- Masyarakat perkotaan dengan ciri spesifik: akses informasi yang tinggi, kritis, individualisme, efisien dan efektif, aspek privacy dan mutu.
Konse dasar Puskesmas di Perkotaan:
- Masalah kesehatan yang lebih komplek
- Kebutuhan jenis pelayanan meningkat sesuai dengan karakteristik masyarakat.
Fungsi Puskesmas:
1. Pusat Penggerak pembangunan berwawasan kesehatan: surveilans (rutin, dampak dari pembangunan perkotaan), penyuluhan kesehatan (dampak pembangunan terhadap masyarakat), kerja sama lintas sektor (tindak lanjut, advokasi).
2. Pusat pemberdayaan masyarakat: perorangan (melayani diri sendiri pada PHBS, kader kesehatan), kelompok (mitra dengan LSM, ormas), masyarakat (konsil kesehatan kecamatan termasuk orang miskin).
3. Pusat pelayanan kesehatan strata Pertama: jenis pelayanan (di luar jenis upaya kesehatan wajib dan pengembangan yang ada, sesuai kebutuhan), tatacara pelayanan (memudahkan akses, hjaminan mutu, efisien dan efektif, privacy dan fleksibilitas), UKM mendapat porsi yang lebih tinggi, UKP ke epan akan didorong ke masyarakat dan swasta melalui manajemen pelayanan dokter keluarga.
Pengembangan Upaya kesehatan:
- Upaya kesehatan ajib lebh intenssif
- Pemilihan Upaya kesehatan pengembangan sesuai masalah
- Upya peningkatan sistem pencatatan/pelaporan dan informasi
- Peningkatan upaya labotratorium
- Peningkatan upaya perkesmas
Pengembangan sarana pendukung:
- Tenaga kesehatan dengan kompetensi
- Pengembangan bangunan
- Pengembangan fasilitas sarana transportasi dan komunikasi
- Fasilitas penunjang lain
- Peningkatan penampilan fisik.

Sasaran Prioritas Upaya kesehatan di Puskesmas
1. Berdasarkan kelompok penduduk:
a. Penduduk berpenghaslan rendah
- Masalah yang ada:
• Memiliki keterbatasan
• Memiliki riiko tinggi timbulnya masalah kesehatan
• Masalah kesehatan konvensional dominan
- Pola pendekatan:
• Pndekatan akses
• Pendampingan, fasilitasi dan pembinaan
b. Penduduk berpenghasilan menengah
- Masalah yang ada:
• Keterbatasan yang ada masih ada
• Masalah kesehatan konvensional dan modern mulai muncul
• Akses kesehatan terjangkau pemerintah dan swasta
- Pola pendekatan:
• Kemitraan untuk mendorong PHBS, UKP dan UKM.
c. Penduduk berpenghasilan tinggi
- Masalah kesehatan:
• Masalah kedokteran modern (diabetes, kardiovaskuler, gizi lebih, PMS, penyalahgunaan napza)
- Pola pendekatan: Menyediakan informasi kesehatan, menggali sumber daya kesehatan.
2. Sasaran berdasar tatanan:
a. Tatatan pemukiman kumuh
- Semua golongan umur rawan masalah kesehatan
- Padat penduduk sehingga proses penularan mudah
- Lingkungan jelek
- Perilaku masyarakat kurang
- Akses pelayanan terbatas
- Derajat kesehatan rendah
- Rawan konflik
b. Tatanan tempat industri
- Pencemaran lingkungan
- Higiene sanitas makanan dan lingkungan kurang
- Rawan keracunan
- Kondisi tempat tinggal kurang sehat
- Rawan prostitusi
c. Tatanan tempat-tempat umum:
C1. Pasar tradisional
- Bahan makanan sebgai media penularan penyakit
- Tempat pembuangan sampah sebagai tempat perindukan
- SPAL
- Kondisi pasar pengap
C2. Tatanan pariwisata
- Rawa terhadap peredaran obat terlarang, mras
- Rawan terhadap PMS, HIV/AIDS
- Rawan terhadap perubahan gaya hidup tidak sehat
C3. Tatatan terminal
- Sarana air bersih
- Sarana jamban umum
- Sarana pembuangan sampah
- Polusi udara
C4. Tatanan Sekolah
- Rawan terhadap penyakit karena sanitasi terbatas
- Rawan terhadap penularan berbagai penyakit infeksi
- Rawan terhadap perubahan gaya hidup
- Sasaran potensial penyebarluasan informasi kesehatan.

Pengobatan Rasional

Batasan/Pengertian
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO, 1987), penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria:
• sesuai indikasi penyakit
• tersedia setiap saat dengan harga terjangkau
• diberikan dengan dosis yang tepat
• cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat
• lama pemberian yang tepat
• obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin dan aman.

Dengan demikian penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
• ketepatan diagnosis
• ketepatan indikasi pemakaian obat
• Ketepatan pemilihan obat: kelas terapi, jenis obat, kemanfaatan, keamanan, resiko SE, harga dan mutu.
Istilah rasional dalam pengobatan adalah jika pengobatan dilakukan secara tepat, yaitu tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat jenis obat, tepat dosis, cara dan lama pemberian, tepat penilaian terhadap kondisi pasien, tepat informasi dan tepat tindak lanjutnya.
.
Gejala Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
• Peresepan berlebih (over prescribing)
- Batuk pilek biasa diberi antibiotik
- Pemberian vitamin pada anak dengan berat ideal
• Peresepan kurang (under prescribing)
- Pemberian antibiotik selama 3 hari
- Penderita diare tidak diberi oralit
• Peresepan majemuk (muliple prescribing)
- Anak demam batuk pilek diberi CTM, Efedrin, GG, sedatif
• Peresepan salah (incorrect prescribing)
- Anak 4 tahun dengan kolera diberi Tetrasiklin
- Injeksi vit.B12 untuk penderita pegal linu

Dampak Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
Mutu pengobatan dan pelayanan
Biaya pelayanan pengobatan
Kemungkinan efek samping dan efek lain yang tidak diharapkan (resistensi, resiko penularan penyakit penggunakaan jarum suntik yang tidak lege artis, dan bahaya alergi/syok anafilaktik)
Kondisi psikososial.
Faktor Yang mempengaruhi Terjadinya Pemakaian Obat Yang Tidak Rasional
Pembuat resep
 Tidak adanya protap
 Pengalaman praktek sehari-hari
 Informasi dari perusahaan farmasi
 Tekanan dari pasien dal;am bentuk permintaan untuk meresepkan obat-obat tertentu berdasarkan pilihan pasien sendiri
 Kekurangyakinanan pada diri pembuat resep terhadap diagnosis yang ditegakkan.
 Terbatasnya waktu bagi dokter/perawat/bidan untuk melakukan pemeriksaan seksama karena banyaknya pasien yang menunggu giliran diperiksa.
Pasien/masyarakat
• Sebagian pasien belim merasa sembuh dari sakitnya bila tidak disuntik
• Sebagian orang tua pasien minta anaknya yang diare disuntik, atau diberi antibiotika ataupun antidiare.
Sistem perencanaan dan pengelolaan obat
• Keterbatasan dana  terbatasnya jumlah obat yang tersedia
• Perencanaan dan pengadaan obat tidak sesuai kebutuhan obat di Puskesmas
Kebijaksanaan obat dan pelayanan kesehatan
• Pendelegasian wewenang untuk melakukan praktek pengobatan yang tidak didasari pengetahuan tentang obat.
• Petugas Pustu memberikan obat ke pasien tanpa resep

Lain-lain
• Gencarnya informasi obat dalam bentuk iklan
• Persaingan praktek

Intervensi Dengan Obat (Farmakoterapi)
4. Pemakaian obat oral ataupun obat yang digunakan sendiri oleh pasien (misalnya salep kulit)
- Peresepan  proses keputusan pengobatan oleh PPK terhadap pasien berdasarkan hasil temuan selama pemeriksaan: pemilihan jenis obat (dosis, cara dan lama pemberian), informasi/edukasi, penulisan resep.
- Penyerahan obat ke pasien (dispensing), memasukkan obat dalam kemasan yang sesuai (packaging), pencatuman label dan petunjuk untuk pasien pada kemasan yang dibuat labelling) dan penyerahan obat ke pasien disertai dengan informasi yang berkaitan dengan obat yang diberikan.
- Pemakaian obat oleh pasien (drug use): kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan untuk menghindarkan resiko SE, resistensi kuman sampai kegagalan pengobatan.

2. Pemakaian obat suntik
 Kemungkinan resiko efek samping pemakaian obat suntik relatif lebih besar dibanding cara pemberian oral.
 Indikasi pemberian obat suntik:
 Jika diperlukan efek pengobatan yang cepat, misanya untuk penanganan syok anafilaksis
 Jika karena kondisi pasien, pemberian peroral sangat tidak mungkin: post-operasi (sebelm peristaltik usus berfungsi baik), penderita yang mengalami trakeostomi, penderita hiperemesis.
 Pada kondisi gawat darurat, misalnya serangan asma akut dengan pemberian aminofilin intravena.
 Obat tidak diabsorpsi pada pemberian peroral: injeksi PP untuk pengobatan/profilaksis demam rematik.
Pertimbangan lain:
 Penyuntikan harus dilakukan secara benar oleh orang yang benar-benar mampu dan berhak melakukannya (dokter).
 Terjamin mutu penggunaan (dosis) dan mutu penyiapan alat suntik.
 Terjamin mutu obat suntiknya: belum kadaluarsa, penyimpanan baik.
 Terjamin ketersediaan alat suntik dan bahan lainnya untuk injeksi (kapas alkohol).

Pemilihan Obat
Efek terapi apa yang diperlukan? Diare akut nonspesifik  oralit.
Kelas terapi apa yang sebaiknya diberikan? Anak dengan pnemonia 
Kotrimoksazol, bukan Tetrasiklin

Hasil Pemantauan dapat dimanfaatkan unuk tindakan koreksi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Hasil penilaian dapat dimanfaatkan untuk menyusun perencanaan kegiatan tahun berikutnya.

SP2TP

Episoda, Orang atau Kunjungan
Adalah sangat penting untuk membedakan apakah yang dihitung itu orang episoda atau kunjungan. Untuk penyakit seperti ISPA dan diare, seseorang dapat mengalami lebih dari satu kali episoda (kejadian) daam setahun. Untuk setiap kejadian ia dapat datang berobat lebih dari satu kali pula. Di pihak lain, seorang penderita tuberkulosis paru akan dihitung sebgai satu orang dan satu episoda, tetapi mungkin berkunjung sampai 12 kali selama setahun.

Untuk mengetahui proporsi penduduk yang menderita suatu penyakit kronis, kita harus menggunakan jumlah orang yng sakit. Untuk menilai keberhasilan program penanggulangan malaria, kita harus menggunakan jumlah episoda (kejadian) baru yang terjadi selama satu tahun. Jika ingin meneliti pemanfaatan sarana pelayanan, kita harus menggunakan jumlah kunjungan (baru dan ulangan).

Dalam SP2TP dibedakan:
• Kunjungan pasien baru adalah seseorang yang baru berkunjung ke sarana
kesehatan dengan kasus penyakit baru.
• Kunjungan pasien lama adalah kunjungan kedua atau berikutnya dari seseorang
dengan penyakit yang sama.
• Rawat jalan adalah pelayanan keperawatan kesehatan perorangan yang meliputi
observasi, diagnosa, pengobatan, rehabilitasi medik tanpa tinggal di ruang
rawat inap pada sarana kesehatan.
• Cakupan rawat jalan adalah jumlah kunjungan kasus baru rawat jalan di
sarana kesehatan (Puskesmas, BP swasta, praktek bersama dan perorangan)
dalam kurun waktu 1 (satu) tahun.
Target cakupan rawat jalan tahun 2010 sebesar 15%
• Penderita adalah kasus, karenanya 1 orang bisa didiagnosis 2 kasus penyakit.


NO JENIS PENYAKIT BATASAN PENYAKIT
1302 Infeksi Akut Lain pda Saluran Pernafasan Bagian Atas: Nasofaringitis Akut
(Common Cold), Sinusitis akut, Faringitis Akut, Laringitis Akut,
Laringitis, obstruktif Akut (Croup), Trakeitis Akut, Epiglotitis
1303 Penyakit Lain dari Saluran Pernafasan Bagian Atas: Deviasi Septum Nasi,
Polip Nasi, Rhinitis Alergi, Rhinitis Vasomotor, Nasofaringitis Kronis,
Faringitis Kronis, Sinusitis Kronis, Tonsilitis Kronis, Adenoiditis Kronis,
Abses Peritonsiler, Laringitis Kronis, Laringotrakeitis Kronis.
1404 Penyakit Lain dari Saluran Pernafasan Bawah: Bronkitis Kronis, Emfisema,
Bronkiektasis, COPD, Efusi Pleura, Pnemotoraks.
16 Penyakit Pada Saluran Kencing: Sindrom Nefrotik, Batu Saluran Kemih,
Radang Kandung Kemih
0104 Infeksi Penyakit Usus yang Lain: Deman Tifoid/Paratifoid, Amubiasis
1005 Penyakit Mata Lain-lain Konjungtivitis, Hordeolum, Juling
22 Penyakit Lainnya: Neoplasma ganas/jinak, penyakit endokrin dan metabolik,
kekurangan gizi/obesitas, penyakit darah dan alat pembuat darah (anemia,
lekemia), Gagal Jantung, Stroke, Varises, Wasir, Gastritis, Sirosis Hati,
Penyakit Alat Kelamin Laki-laki dan Wanita, Abortus, Patah Tulang dan Luka
Bakar).

Program Kesehatan Usila

USILA:
- Pra Usia Lanjut : 45 – 59 tahun
- Usia Lanjut : > 60 tahun

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :
a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.


Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia

Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :

- Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan
- Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
- Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.

Kendala Pelaksanaan Posyandu Lansia

Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :

a. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia
b. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.

c. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.

Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.
d. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons

Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia

Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.

Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia seperti tercantum dalam situs Pemerintah Kota Jogjakarta adalah:
a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.
c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
d. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
e. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)
g. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.
h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7
i. Penyuluhan Kesehatan.

Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran.


Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia, dibutuhkan, sarana dan prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan, stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer, Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia

Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

Ruang Lingkup Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit:
- Imunisasi
- Surveilans epidemiologi
- TBC
- Malaria
- Kusta
- DBD
- Penanggulangan KLB
- ISPA/Pnemonia
- Filariasis
- AFP
- Diare
- Rabies/Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR)
- Kesehatan Matra (Haji dan P. Bencana)
- Frambusia
- Leptospirosis
- HIV/AIDS
- Penyakit tidak menular (DM, hipertensi, dll).
Definisi epidemiologi menurut WHO (1989) adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan yang menimpa sekelompok masyarakat dan menerapkan ilmu tersebut untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan.
Pengertian Surveilans (WHO) adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan aalisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tinakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
Tujuan surveilans:
1. Menentukan data dasar/besarnya masalah kesehatan
2. Memantau atau mengetahui kecenderungan penyakit
3. Mengidentifikasi adanya kejadian luar biasa
4. Membuat rencana, pemantauan, penilaian atau evaluasi program kesehatan.

Subsistem surveilans epideiologi kesehatan:
c. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
d. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
e. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
f. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
g. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentan Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
Jenis-jenis penyakit yang diamati di Puskesmas (STP):

10. Kolera
11. Diare
12. Diare Berdarah
13. Tifus perut klinis
14. TB Paru BTA +
15. TB Paru Klinis
16. Kusta PB
17. Kusta MB
18. Campak
19. Difteri
20. Batuk Rejan
21. Tetanus
22. Hepatitis Klinis
23. Malaria Klinis
24. Malaria Vivax
25. Malaria Falsifarum
26. Malaria mix
27. Demam Berdarah Dengue
28. Demam Dengue
29. Pnemonia
30. Sifilis
31. Gonore
32. Frambusia
33. Filariasis
34. Influenza

Kejadian Luar Biasa (KLB) =
Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB) = adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidmiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

Kriteria Kerja KLB:
1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya.
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikkan dua kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali
lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari tahun
sebelumnya.
6. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proposional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih periode yang sama dalam kurun
waktu/tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus: kolera, DBD/DSS:
a. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
b. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu
sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita: keracunan makanan,
keracunan pestisida.

Macam penyakit menular:
 Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes,
Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan
Difteri).
 Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis
dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS.
 Penyakit menular dengan potensi wabah rendah: malaria, meningitis,
frambusia, keracunan, influenza, ensefalitis, antraks, tetanus neonatorum
dan tifus abdominalis.
 Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC,
Sifilis, Gonore dan Filariasis.

Penyelidikan epidemiologi KLB yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk memastikan adanya penderita penyakit yang dapat menimbulkan KLB, mengenai sifat-sifat penyebabnya dan faktor-fator yang mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasannya.
Tujuan Penyelidikan Epidemiologi KLB adalah untuk menentukan jenis penyakit yang menimbulkan KLB dan cara-cara mencegah meluasnya daerah/populasi yang terkena dan caracara pemberantasannya.


3 M Plus adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk Demam Berdarah dengan cara :

1. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti : bak mandi / WC,
tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lain-lain seminggu
sekali.
2. Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum
dan lain-lain.
3. Mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar / di luar rumah yang
dapat menampung air hujan.

Plus tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk.
• Membunuh jentik nyamuk Demam Berdarah di tempat air yang sulit dikuras atau
sulit air dengan menaburkan bubuk Temephos (abate) atau Altosid 2 – 3 bulan
sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram Altosid untuk
100 liter air. Abate dapat diperoleh/dibeli di puskesmas atau di apotik.
• Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
• Mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk
• Mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok
• Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
• Tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

ERADIKASI CAMPAK
Penyakit campak sering juga disebut penyakit morbili atau measles. Definisi kasus campak klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di tubuh berbentuk
makulo papular selama 3 hari atau lebih disertai panas badan 38 derajat C atau lebih (teraba panas) dan disertai salah satu gejala batuk pilek atau mata merah (WHO).
Pada sidang CDC/PAHO/WHO, tahun 1996 menyimpulkan bahwa penyakit campak dapat dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) /reservoir campak hanya pada manusia, serta tersedia vaksin dengan potensi yang cukup tinggi yaitu effikasi vaksin 85%, dan diperkirakan eradikasi dapat dicapai 10-15 tahun setelah eliminasi.
WHO mencanangkan beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak, dengan tekanan strategi yang berbeda-beda pada setiap tahap yaitu :

1.Tahap Reduksi
Tahap ini dibagi dalam 2 tahap :
a.Tahap pengendalian campak
Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi
penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun.
b.Tahap Pencegahan KLB
Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun.
2. Tahap Eliminasi
Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi.
Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak.
3. Tahap Eradikasi.
Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi.

Surveilans campak dilakukan untuk mengetahui permasalahan dalam penanggulangan campak yang meliputi :
1. Kelompok umur kasus campak
2. Status imunisasi kasus campak
3. Wilayah yang bermasalah serta waktu kejadian kasus campak
4. Memprediksi terjadinya KLB campak

Kegunaan data surveilans campak bagi program imunisasi :
1. Untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan imunisasi campak
2. Memberikan arahan bagi program imunisasi dalam menentukan kebijakan imunisasi campak dan perencanaan dimasa mendatang secara tepat sesuai dengan permasalahan yang ditemukan oleh surveilans.
Peran petugas kesehatan dalam surveilans campak:
1. Melakukan pengobatan
2. Mencatat dan melaporkan setiap kasus campak ke Puskesmas / Dinas
Kesehatan setempat menggunakan form C1
3. Pastikan status imunisasi campak penderita telah tercatat.
4. Menanyakan pada keluarga penderita apakah ada penderita campak lain di
wilayahnya
5. Jika terdapat kasus, keluarga disarankan untuk membawa penderita campak
ke Puskesmas / pelayanan kesehatan setempat



Tatalaksana kasus campak:
1. Pengobatan simptomatik (atipiretik)
2. Pemberian antibiotik bila ada komplikasi, bila berat segera dirujuk ke RS
3. Pemberian vitamin A dosis tinggi (sesuai umur)
4. Perbaikan gizi
5. meningkatkan cakupan imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.
Peran Puskesmas dalam Penanggulangan KLB Campak:
1. Setiap kasus campak yang datang ke Puskesmas, harus dicatat dalam formulir
C1, laporkan setiap bulan ke Kabupaten.
2. Setelah itu tanyakan apakah ada anak lain di sekitar penderita yang
mempunyai penyakit dengan gejala yang sama, bila ada, lakukan pelacakan.
3. Bila terdapat lebih dari 5 penderita dalam 4 minggu berturut-turut
mengelompokkan secara epidemiologis di wilayah puskesmas, lakukan
penyelidikan KLB menggunakan formulir C1 dan C2.

Definisi Kasus Campak Konfirmasi:
1. Pemeriksaan laboratorium serologis (IgM positip atau kenaikan titer antibodi 4
kali) dan atau isolasi virus campak positip.
2. Kasus campak yang mempunyai kontak langsung (hubungan epidemiologi)
dengan kasus konfirmasi, dalam periode waktu 1-2 minggu.

Definisi KLB campak
1. Tersangka KLB Campak
Adanya 5 atau lebih kasus tersangka campak dalam waktu 4 minggu
berturut-turut mengelompok dan mempunyai hubungan epidemiologis satu sama
lain.
2. KLB Campak Pasti
Apabila minimum 2 spesimen positif IgM campak dari hasil pemeriksaan kasus
pada tersangka KLB campak.

Tindakan Puskesmas bila terjadi tersangka KLB campak ?
1. Laporkan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota
2. Lacak penderita bersama Kab/Kota menggunakan formulir C1 dan C2
3. Ambil specimen darah penderita sesuai pedoman, segera kirim ke Dinkes
Kabupaten / Kota
4. Analisa data, buat kesimpulan seperti tertera dalam peran Puskemas
5. Laporkan hasil penyelidikan KLB dan diskusikan dengan staf Puskesmas
dan Kabupaten
6. Buat laporan lengkap KLB setelah tidak ada lagi kasus tambahan selama
2x masa inkubasi (2×2 minggu). Laporkan ke Dinas Kesehatan
kabupaten/kota.

Menurut WHO, apabila ditemukan satu (1) kasus pada satu wilayah, maka kemungkinan ada 17-20 kasus di lapangan pada jumlah penduduk rentan yang tinggi.

Pada tahap reduksi campak dengan pencegahan KLB :
Pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap 10 - 15 kasus baru pada setiap KLB.
Populasi rentan (susceptible) atau tak terlindungi imunisasi campak dapat dihitung dengan rumus :
Prc = Px - 0,85 ( Cix .Px ) - BS - AM
Prc = Jumlah populasi rentan campak pada tahun (x)
Px = Jumlah populasi bayi pada tahun (x)
Ci.x = % cakupan imunisasi tahun (x)
BS = Jumlah Bayi sakit campak selama periode thn x
AM = Jurnlah Bayi meninggal selama periode tahun (x)
Cara pengambilan specimen darah pada tersangka KLB campak ?
1. Darah : ambil 3 – 5 ml darah vena pada tersangka penderita campak sebelum 28
hari setelah timbul rash, menggunakan syring 5 ml. Diamkan dalam suhu kamar
selama 1 jam. Ambil serum,masukkan ke dalam tabung khusus. LAli masukkan ke
dalam spesimen carier pada suhu 2 – 8 ° C.
2. Segera kirim ke propinsi atau laboratorium campak nasional

IMUNISASI
Tujuan kegiatan imunisasi:
1. Memberikan kekebalanpada bayi, anak dan ibu hamil dengan maksud menurunkan
angka kesakitan dan kematian serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari
PD3I.
2. Tercapainya Universal Child Immunization yaitu tercapainya cakupan
imunisasi dasar lengkap > 80% (1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosois Polio,
1 dosis Campak dan 3 dosis Hepatitis B sebelum anak berusia 1 tahun).
3. Tercapainya Eliminasi Tetanus Neonatorum (insiden < 1 per 10.000 KH). 4. Tercapainya Eradikasi Poliomyelitis di seluruh Indonesia. 5. tercapainya reduksi Campak sebesar 90% dibandingkan sebelum program imunisasi dilakukan. Vaksin dibuat dari berbagai cara:  Bibit penyakit yang dimatikan : bakteri pertusis  Bibit penyakit yang dilemahkan: campak, polio, BCG  Toksin yang diubah menjadi toksoid: TT dan DT  Bioteknologi rekayasa genetika: Hepatitis B. Karakteristik vaksin: Jenis vaksin produksi PT. Bio Farma untuk program imunisasi saat ini adalah : • BCG (Basillus Calmette Guirene) dalam bentuk ampul berisi 20 dosis IP = 4 • Polio dalam bentuk vial berisi 10 dosis/5 cc IP = 8 • Campak dalam bentuk vial verisi 10 dosis/5 cc IP = 4 • TT (Tetanus Toxoid) dalam bentuk vial berisi 10 dosis/5 cc) IP = 8 • DT (Difteri Tetanus) dalam bentuk 10 dosis/5 cc) IP = 20 • DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis) dalam bentuk vial berisi 10 dosis/5 cc IP = 6 • Hepatitis B dalam bentuk uniject berisi 1 dosis (0,5 cc) IP = 1 Sifat vaksin: 1. Vaksin yang rusak karena pembekuan: DPT, DT, TT, Hepatitis B 2.Vaksin yang tidak rusak karena pembekuan (boleh beku): BCG, Polio dan Campak. Kebijaksanaan penggunaan kembali vaksin yang telah dibuka adalah sebagai berikut : a. Vaksin DTP, DT, TT, Hep. B dan Polio dapat digunakan kembali hingga 4 minggu sejak vial vaksin dibuka. b. Vaksin campak karena tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan tidak lebih dari 6 jam sejak dilarutkan. Sedangkan vaksin BCG boleh digunakan hanya 3 jam setelah dilarutkan. c. Sisa vaksin dari lapangan seperti BCG, Campak, Polio, DTP, DT, TT dan Hep. B jangan disimpan dalam lemari es d. Sisa vaksin harus disimpan selama ± 1 bulan. Hal ini diperlukan untuk melacak bila terjadi kasus KIPI pada vaksin yang telah dipergunakan Uji mutu vaksin Mutu vaksin DPT yang baik:  Bila didiamkan lama maka ada sedikit endapan pada dasarnya.  Bila botol dimiringkan maka endapan mudah bergerak.  Jika dikocok maka vaksin menjad berkabut. Kabut sangat halus dan tidak ada bintik-bintik. Kabut tersebut menjadi endapan lagi secara perlahan-lahan.  Vaksin DPT dapat rusak kalau pernah beku. Untuk itu diperiksa dengan uji kocok. Uji kocok (shake test) vaksin DPT:

TIDAK PERNAH BEKU
Saat ini = Rata dan keruh
15 menit = Tetap rata dan keruh
30 menit = Mulai jernih tapi tidak ada endapan
60 menit = Sebagian jernih dan dengan endapan keruh bila digoyang

WAKTU PERNAH BEKU
Saat ini = Ada gumpalan kecil, sedikit keruh
15 menit = Ada endapan pada dasar botol
30 menit = Sebagian tetap jernih, ada endapan tebal
60 menit = Endapan tebal bergerak bila botol digoyang

5 DOSIS TT SEUMUR HIDUP

ANTIGEN INTERVAL PROTEKSI
TT1 0 tahun
4 minggu
TT2 3 tahun
6 bulan
TT3 5 tahun
1 tahun
TT4 10 tahun
1 tahun
TT5 > 25 Tahun

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
Definisi KIPI
Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KN PP KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi.
KN PP KIPI membagi penyebab KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:

1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)
2. Reaksi suntikan
3. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
4. Faktor kebetulan (koinsiden)
5. Penyebab tidak diketahui

Imunisasi Pada Kelompok Resiko
Untuk mengurangi resiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah resipien termasuk dalam kelompok resiko. Yang dimaksud dengan kelompok resiko adalah:
1. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu
Hal ini harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI setempat dan KN PP KIPI dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia untuk penanganan segera.
2. Bayi berat lahir rendah
Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:
a) Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dari pada bayi cukup bulan
b) Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan; imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih kecuali bila ibu mengandung HbsAg
c) Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak menyebabkan penyebaaran virus polio melaui tinja
3. Pasien imunokompromais
Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia. Imunisasi tetap diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/ kg berat badan/hari selama 14 hari. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi selesai.
4. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin
Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk menghindarkan hambatan pembentukan respons imun.